Refleksi hari Pendidikan Nasional
Memperingati HARDIKNAS kali ini, saya ingin sharing perjalanan saya sebagai anak perempuan pertama, dari desa, dan punya keterbatasan dukungan untuk berpendidikan dari keluarga, lingkungan bahkan finansial. Tentang pendidikan, ada beberapa fase yang saya masih ingat sampai hari ini. Itu adalah waktu-waktu saat saya berusaha all in dalam memutuskan sesuatu.
Pertama, ketika saya mau pindah sekolah dari Nufal ke Nazmut. Dari pertentangan semua orang disekeliling, kecuali Kepala sekolah saya. Pihak yayasan ingin mempertahankan siswa-siswa yang lulus agar lanjut sekolah di madrasah asal. Tapi saya tidak ingin hanya menumpukan pengalaman saya ditempat yang sama bertahun-tahun. Tahun itu saya sendiri, ngadep dhalem Kyai untuk pamit keluar madrasah. Pada akhirnya direstui dengan saya berjanji akan ngabdi kembali. Dan sampai detik ini saya masih ngabdi Setelah lulus SMA.
Di fase pertama ini saya belajar, impian untuk berpendidikan bisa kita peroleh meski hanya mengandalkan diri sendiri. Tentunya selain niat, action kita untuk memperoleh itulah yang penting. Sehubungan dengan itu maka kesadaran mutlak dari keputusan yang kita ambil haruslah dipertanggungjawabkan mulai dari rencana dan resikonya.
Kedua, ketika ditawari untuk masuk dhalem Pondok Demangan Bangkalan. Mondok adalah keinginan terpendam saya dari dulu. Saya sangat suka Ilmu Nahwu, tapi karna kendala orang tua saya tidak bisa se egois itu. Pada akhirnya, setelah berkonsultasi panjang dengan guru biologi di MTs. Beliau hanya bilang, 'Kalau kamu masih bingung. Lanjut sekolah SMA saja. Gak apa-apa gak bisa lanjut keinginanmu. Asal karaktermu tidak kalah dengan anak keluaran pondok." Dan ya, saya mengikuti nya. Menambah amalan, menambah hafalan bahkan tetap mempertahankan kitab-kitab dengan memakna ulang.
Di fase ini, kembali saya belajar bahwa berpendidikan sesuai keinginan kita sendiri bisa saja gagal atau malah membuat kita bingung. Tapi yang paling penting dari itu semua adalah tujuanmu menginginkan itu apa?. Saya menyadari betul bahwa yang ingin saya dapat adalah memperdalam ilmu agama di pondok. Sebuah pintu mungkin tertutup, tapi jalan lain bukan tidak mungkin ada. Jadi di fase itu saya memutuskan untuk menolak masuk pondok dan mulai disiplin diri untuk tetap memperdalam agama dengan cara yang lain.
Ketiga, saat lulus SMA. 3 tahun setelah berkecimpung sana-sini untuk memperkaya kapasitas. Pada akhirnya tetap gak bisa lanjut kuliah di kampus yang saya inginkan. Kyoto university-Jepang, Yonsei university-Korea, dan Universitas Trunojoyo Madura semua selesai dan gagal. Padahal saya mempersiapkan diri sebaik mungkin, Pramuka, B. Inggris, B. Jepang, Komputer, Gitar, Basket, Buletin, Beladiri, dan Beasiswa. Semuanya saya persiapkan. Mungkin memang bukan takdir. Kenapa gak jadi kuliah diantara ketiganya? Kendala orang tua, gak ada dukungan, terakhir gak ada finansial. At least, tetap milih kuliah di IKIP meskipun ramai sekeluarga karna keluarga pengennya saya melancong. Waktu itu, saya kekeh, intinya kuliah dimanapun gpp. Yang penting masih kuat biaya sendiri dan Alhamdulillah nya di IKIP bisa nyicil. Benar-benar waktu itu kayak jatohnya disini yaa... Untungnya sekali lagi saya meyakinkan diri. Bukan tempat bukan ukuran, yang membuktikan bahwa saya bisa survive menikmati hidup yang lebih baik.
Di fase ini saya belajar, ternyata penting sekali untuk tetap openmind meskipun saya sejatuh-jatuhnya. Jelas saya tidak ingin marah dengan hidup ini dan pilihan waktu adalah pilihan terbaik yang saya punya, sehingga yang saya lakukan adalah berusaha di atas standart. Kuliah, Kerja, Ngabdi di madrasah dan komunitas saya sendiri. Benar-benar semuanya harus full effort.
Terakhir ialah saat saya harus memilih organisasi ekstra kampus. Karena sadar bahwa pendidikan kampus gak bakal cukup sebagai booster perkembangan diri, saya memutuskan untuk ikut-ikutan. Tapi ternyata ormeks yang saya mau gak ada di kampus. Walhasil saya bingung lagi. Waktu itu saya hanya punya satu hal sebagai prinsip, memulai sesuatu haruslah dipertanggungjawabkan.
Awalnya tetap memutuskan dijalani saja dulu, Dua-duanya. Dan ya saya mengikuti proses kaderisasi ke dua-duanya. Pada akhirnya melihat maslahat yang ada, saya memutuskan pamit ke mentor saya yang sejak SMA. Saya tidak bisa melanjutkan perjuangannya karna saya harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah saya dan teman-teman saya sepakati untuk dimulai.
Pada fase itu saya belajar banyak hal, tapi yang paling saya ingat ialah : saat memutuskan mempelajari sesuatu mungkin awalnya kita hanya ikut-ikutan, namun menyadari bahwa keputusan labil yang saya ambil juga ikut serta mempengaruhi sekitar, saya mulai memikirkannya ulang. Memahami bahwa di dunia ini bukan hanya sekedar hitam-putih, benar-salah, ternyata penting mempunyai solidaritas bahkan ketika it's in a bad state. Mungkin saya akan menyesal karna tidak mengikuti keinginan saya. Tapi saya tidak mau meninggalkan orang-orang yang mengikuti saya.
Dari semua fase itu, saya memahami bahwa proses berpendidikan adalah investasi terbaik yang dimiliki manusia. Mungkin tidak sesuai keinginan dan seringkali terjerembab. Dan pemikiran ulang serta keputusan untuk terus berpendidikan nyatanya hadir terus menerus disetiap kesempatan diwaktu kita terhimpit. Itu adalah saat-saat krusial masa depan kita sendiri menjadi jaminan dari keputusan dan action yang kita lakukan.
Melihat saya sekarang, saya hanya ingin bilang bahwa berpendidikan itu tidak harus wah. Jadi apa yang harus wah? Keinginan kita, Kegigihan kita, pandangan kita dan mindset kita. Gak harus melulu tempat yang tinggi dan besar, Tapi tetap dalam proses berpendidikan disertai full effort menembus batas diri itulah modal terbesar yang harus kita miliki.
Selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional!!!

Komentar
Posting Komentar