Tidak ada orientasi yang jelas dari senior PMII?

 


Saya sering ditanya hal yang sama oleh adik-adik kader:
“Kak, ada info lowongan kerja nggak?”
Bahkan pernah suatu waktu saya difrontal di forum. Ada yang menuding:
“Senior cuma bisa bicara ideologi dan doktrin. cuma bisa kasih materi diskusi. Tapi setelah kami lulus atau bermasalah keuangan kampus, kami dibiarkan bingung. Senior nggak ada kasih solusi”
Jujur, kata-kata itu menohok saya habis-habisan. Seolah keberadaan saya sebagai senior tidak ada artinya. Seolah PMII hanyalah tempat “teori tanpa solusi”.

Tapi mari kita jujur pada diri kita sendiri: sejak kapan PMII menjanjikan pekerjaan?
PMII adalah organisasi kaderisasi, bukan perusahaan, bukan pabrik lowongan kerja. Ia tidak pernah didirikan untuk jadi mesin penggaji kadernya. Tidak.
Kenapa PMII Tidak Menyediakan Pekerjaan?
Karena dari awal, PMII adalah ruang pembentukan manusia—manusia yang punya daya tahan, daya pikir, dan daya juang.
Kalau hari ini ada yang menuntut PMII menyediakan lapangan kerja, itu artinya ada kesalahpahaman besar: mengira organisasi adalah pabrik, bukan sekolah kehidupan.

Organisasi ini memberi kita modal sosial (jaringan), modal kultural (pengetahuan, diskusi, ideologi), dan modal simbolik (identitas sebagai kader pergerakan). Semua itu jauh lebih kuat daripada sekadar “lowongan kerja instan”.

Fase Post-Struktural: Saat Panggung Sebenarnya Dimulai
Saya juga pernah berada di posisi itu: selesai kepengurusan, kehilangan panggung, lalu merasa kosong. Terbengkalai diluar struktur, ternyata dunia jauh lebih keras.
Inilah fase post-struktural. Tidak ada lagi rapat mingguan, tidak ada lagi forum diskusi yang rutin, tidak ada lagi “status pengurus”. Yang tersisa hanyalah diri kita sendiri, ditopang oleh apa yang pernah kita dapat di PMII.
Dan di fase inilah seharusnya kita sadar: senior bukan Tuhan, organisasi bukan perusahaan, dan pekerjaan bukanlah hadiah. Atau lebih klise, karna PMII hidup kita terjamin. Atau ikut organisasi biar hidup lebih bergengsi.
Pekerjaan lahir dari kemampuan kita mengelola modal-modal yang sudah ditanamkan organisasi.
Relasi alumni? Itu pintu masuk, bukan jaminan.
Skill intelektual? Itu senjata untuk bertahan.
Solidaritas kader? Itu energi untuk saling menguatkan.

Solusi: Jangan Jadi Generasi yang Manja
Kalau saya keras, itu karena saya peduli. Saya tidak ingin melihat adik-adik hanya jadi generasi penuntut: menuntut senior, menuntut organisasi, menuntut pekerjaan.
PMII bukan lembaga amal. Ia adalah kawah candradimuka. Dan siapa pun yang lahir dari kawah itu seharusnya punya mental petarung, bukan mental pengemis.
Solusi post-struktural bukan soal senior membuka lowongan untuk adiknya.

Solusinya adalah:
Dekonstruksi ekspektasi bahwa organisasi harus menjamin hidupmu.
Bangun mindset entrepreneur: kalau tidak ada kerjaan, ciptakan kerjaan.
Jadikan alumni sebagai ekosistem kolektif, bukan patron yang selalu harus memberi makan.
Jadikan intelektualitasmu sebagai aset, bukan sekadar hiasan di seminar.

Saya pernah disalahpahami, bahkan dituduh tidak peduli. Tapi justru dari situ saya belajar: adik-adik butuh pemahaman baru.
Bahwa PMII tidak pernah berjanji memberi pekerjaan. Yang ia janjikan hanyalah satu: membentuk manusia berdaya, yang tidak roboh ditelan kerasnya dunia. Yang tetap berdiri dan menjadi orang yang paling tidak bisa ditumbangkan.

Kalau hari ini ada yang kecewa karena PMII tidak memberi pekerjaan, saya balik bertanya:
“Kalau semua harus disediakan, lalu apa arti perjuangan yang harus diperjuangkan sebagai kader pergerakan?”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Essay Ke PMII-an

Bukan hanya perempuan, Lelaki juga mempunyai tanggung jawab yang sama atas Anak

Ibu Muda di Saf Anak-anak: Potret Buram Pernikahan Dini di Sekitar Kita