Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

Tidak ada orientasi yang jelas dari senior PMII?

Gambar
  Saya sering ditanya hal yang sama oleh adik-adik kader: “Kak, ada info lowongan kerja nggak?” Bahkan pernah suatu waktu saya difrontal di forum. Ada yang menuding: “Senior cuma bisa bicara ideologi dan doktrin. cuma bisa kasih materi diskusi. Tapi setelah kami lulus atau bermasalah keuangan kampus, kami dibiarkan bingung. Senior nggak ada kasih solusi” Jujur, kata-kata itu menohok saya habis-habisan. Seolah keberadaan saya sebagai senior tidak ada artinya. Seolah PMII hanyalah tempat “teori tanpa solusi”. Tapi mari kita jujur pada diri kita sendiri: sejak kapan PMII menjanjikan pekerjaan? PMII adalah organisasi kaderisasi, bukan perusahaan, bukan pabrik lowongan kerja. Ia tidak pernah didirikan untuk jadi mesin penggaji kadernya. Tidak. Kenapa PMII Tidak Menyediakan Pekerjaan? Karena dari awal, PMII adalah ruang pembentukan manusia—manusia yang punya daya tahan, daya pikir, dan daya juang. Kalau hari ini ada yang menuntut PMII menyediakan lapangan kerja, itu artinya ad...

Ibu Muda di Saf Anak-anak: Potret Buram Pernikahan Dini di Sekitar Kita

Gambar
  Ramadhan lalu, saya pergi ke masjid seperti biasa. Ada suasana khusyuk yang biasanya hadir ketika kita melangkahkan kaki ke rumah ibadah di bulan suci. Tapi kali ini, ada pemandangan yang menyisakan renungan dalam hati saya hingga sekarang. Di barisan anak-anak perempuan yang duduk untuk sholat Tarawih, saya melihat seorang ibu muda. Umurnya mungkin tak jauh berbeda dari anak-anak SMP, belasan tahun. Ia menggandeng seorang balita yang tampaknya adalah anaknya sendiri. Awalnya saya mengira dia hanya kakak dari si anak kecil itu, mungkin ibunya minta dia bawa adiknya ikut tarawih. Pikir saya, tapi setelah memperhatikan interaksi mereka, terutama cara ia mengurus serta panggilan kecil dari si anak saya mulai yakin bahwa dia adalah ibunya. Pemandangan itu mengganggu saya. Bukan karena keberadaan anak kecil di masjid, itu hal yang biasa dan justru menyenangkan. Tapi karena saya menyaksikan bagaimana ibu muda itu menjadi pusat perhatian bukan karena keteladanannya, tapi karena di...

Happy International Women's day : Antara Cinta, Tuntutan, dan Peran yang Dibentuk

Gambar
Kemarin, saya berulang kali melihat lagu "Labour" berseliweran di beranda TikTok. Liriknya kuat, mengisahkan peran double burden yang selama ini menjadi beban bagi perempuan. Dalam lagu itu, perempuan digambarkan tidak hanya bekerja, tetapi juga terus diminta memenuhi ekspektasi yang kadang melelahkan. Sebagai perempuan, saya hanya bisa mengatakan bahwa tuntutan adalah sesuatu yang pasti bagi setiap manusia, entah laki-laki maupun perempuan. Kehidupan memang berjalan sesakit itu. Namun, bagaimana kita meresponsnya adalah kunci utama. Satu hal yang bisa kita lakukan adalah memberikan makna pada setiap peran yang kita jalani. Saya sering menemukan diri saya secara spontan memasak untuk paman atau ipar ketika ibu dan bibi tidak ada di rumah. Saya juga kerap memastikan persediaan air dalam kulkas tetap ada agar mereka lebih mudah mengambilnya. Padahal, saya bukan orang yang suka ribet dengan urusan orang lain, dan saya pun bukan ahli dalam memasak. Dari situ, saya mulai memahami ...

Reminder : Membangun Kembali Etika Kader

Gambar
  Beberapa waktu lalu saya diundang untuk mengisi acara, tidak banyak yang diminta junior saya, hanya beberapa motivasi dan cerita-cerita pengalaman organisasi. Namun paling penting yang harus disampaikan adalah penguatan internal dan semanagt juang untuk menunjang roda organisasi. Setelah melakukan perjalanan bersama, banyak kejadian-kejadian menarik yang saya rasakan. Kemudian saya menjadi resah, sepertinya perjalanan ini tidak cukup hanya dengan saya memberikan kesan-pesan dan motivasi saja. Sebagai seseorang yang telah melewati berbagai fase dalam organisasi, saya tak bisa menghindari rasa prihatin terhadap perubahan sikap dan perilaku kader yang pada saat itu semakin terlihat menjauh dari nilai-nilai yang seharusnya mereka miliki. Dulu, saya selalu percaya bahwa etika adalah salah satu fondasi utama dalam membangun karakter seorang kader. Namun kini, saya melihat ada transformasi yang membuat nilai-nilai itu seolah memudar, digantikan dengan budaya yang lebih mengedepankan...

Spri-tai-litas: Memahami Prinsip Ikhlas dari feses manusia

Gambar
               Sebenarnya pagi ini mood memey masih sama berantakannya seperti kemarin. Proposal tidak tersentuh, tanggungan toko menumpuk, gak pegang uang banyak, dan masalah-masalah lain yang bikin gak minat ngapa-ngapain. Kemungkinan efek gak move on lebih mendominasi, bisa jadi.             03.57, Memutuskan buka podcase Fellexandro Ruby karna males baca buku, akhirnya ketemu pembahasan ‘Spri-tai-litas’ . Hah? Gak salah nulis? Gak kok emang insight point yang diambil memey itu. Spritailitas diambil dari penggalan ‘ Sikat Gigi’ dalam buku Filosofi Kopi. Jadi, analogi ini digambarkan oleh penulis sebagai proses manusiawi yang dialami manusia setiap hari, dan dari proses itu diambilah pembelajaran kehidupan untuk merilekskan hidup yag chaos. Yuk kita bahas. Pernah gak kita mikir tentang seberapa banyak pembelajaran yang bisa kita ambil dari hal-hal yang terkesan biasa? Sesuatu yang mung...